KALIMANTAN — Ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla belum sepenuhnya mereda. Data BNPB berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga 20 Agustus 2026 mencatat sebanyak 1.487 hotspot di wilayah Kalimantan. Konsentrasi terbesar saat itu berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik dan Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing tercatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara tiga titik. Angka tersebut merupakan hasil pemantauan pada periode tertentu dan bukan jumlah kebakaran yang sedang berlangsung saat ini.
Situasinya terus berubah dari hari ke hari. Di Kalimantan Selatan misalnya, Kementerian Kehutanan mencatat 157 hotspot pada 21 Agustus. Jumlahnya turun menjadi 11 titik pada malam 22 Agustus, kemudian kembali terpantau 44 hotspot pada pukul 06.00 tanggal 23 Agustus yang tersebar di Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan dan Tapin. Perubahan cepat tersebut menunjukkan bahwa data hotspot bersifat dinamis dan harus dibaca berdasarkan waktu pemantauan serta satelit yang digunakan.
Sementara di Kalimantan Barat, perkembangan terbaru menunjukkan penurunan cukup tajam. Berdasarkan data SiPongi hingga 23 Agustus pukul 23.59 WIB, terpantau 28 hotspot di provinsi tersebut. Namun pemerintah mengingatkan turunnya jumlah titik panas bukan berarti persoalan selesai. Saat Menteri Kehutanan Raja Antoni meninjau Rasau Jaya Tiga di Kubu Raya, api memang tidak lagi terlihat, tetapi asap masih keluar dari lahan gambut. Kondisi seperti ini terjadi karena bara dapat tetap menyala di bawah permukaan tanah meskipun api di atasnya sudah padam.
Penanganan pun masih dilakukan dalam skala besar. BNPB melaporkan pada 23 Agustus empat unit helikopter water bombing di Kalimantan Barat melakukan 223 kali penjatuhan air dengan total sekitar 1,05 juta liter. Operasi Modifikasi Cuaca juga dilaksanakan pada 22 hingga 27 Agustus. Di Kalimantan Tengah, dua armada patroli menemukan 25 fire spot dan tiga helikopter melakukan 159 kali penjatuhan air. Sementara di Kalimantan Selatan, dua helikopter aktif melakukan 243 kali penjatuhan dengan volume sekitar 1,03 juta liter air.
Pemerintah sebelumnya juga memobilisasi 12.880 personel gabungan untuk operasi pengendalian karhutla di Kalimantan. Mereka berasal dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha hingga relawan. Operasi dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, dukungan udara serta pemantauan titik panas secara berkala.
Kondisi cuaca membuat kewaspadaan masih harus dijaga. Analisis BMKG pada Dasarian II Agustus menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,99 yang menandakan El Niño dengan intensitas sangat kuat. Untuk Dasarian III Agustus, peringatan dini kekeringan meteorologis kategori siaga juga mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan. BMKG memprakirakan sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia pada periode tersebut didominasi curah hujan rendah, termasuk sebagian besar Kalimantan.
Di tengah situasi itu, masyarakat tidak harus menunggu informasi beredar di media sosial untuk melihat wilayah yang terindikasi mengalami peningkatan suhu. Ada sejumlah layanan digital yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan karhutla.
1. SiPongi+ Kementerian Kehutanan
SiPongi+ merupakan salah satu pilihan utama karena menjadi sistem pemantauan karhutla milik Kementerian Kehutanan. Melalui menu peta hotspot, masyarakat dapat memperbesar wilayah yang ingin dipantau, melihat sebaran titik panas hingga memilih periode, provinsi, sumber satelit dan tingkat kepercayaan data. Informasi hotspot dari sistem ini juga digunakan pemerintah sebagai bagian dari sistem peringatan dini dan dasar untuk melakukan pemeriksaan lapangan.
Tingkat kepercayaan hotspot juga perlu diperhatikan. Semakin tinggi tingkat kepercayaan suatu titik, semakin kuat indikasi adanya anomali panas. Meski demikian, status tersebut tetap tidak dapat dijadikan bukti tunggal bahwa sebuah lokasi benar-benar sedang mengalami kebakaran.
2. NASA FIRMS
Pilihan berikutnya adalah NASA FIRMS atau Fire Information for Resource Management System. Platform berbasis satelit ini dapat digunakan untuk melihat active fire dan thermal anomaly di berbagai wilayah dunia, termasuk Kalimantan. Pengguna dapat memperbesar peta ke wilayah tertentu untuk melihat persebaran titik panas dan waktu pendeteksiannya. Layanan ini cocok digunakan ketika ingin melihat kondisi dalam cakupan wilayah yang lebih luas dan membandingkan persebaran hotspot antardaerah.
Karena berasal dari pengamatan satelit, titik yang muncul pada FIRMS juga harus dipahami sebagai indikasi panas, bukan otomatis lokasi kebakaran besar. Data satelit sangat berguna untuk deteksi dini, tetapi kondisi sebenarnya tetap harus dikonfirmasi melalui pengecekan di lapangan.
3. Google Maps
Untuk masyarakat umum, Google Maps menjadi cara yang paling mudah karena aplikasinya sudah tersedia di banyak ponsel. Pengguna dapat membuka menu Layers dan mencari pilihan Wildfires atau Kebakaran Hutan apabila fitur tersebut tersedia, kemudian memperbesar wilayah Kalimantan yang ingin diperiksa. Informasi yang muncul dapat membantu melihat posisi suatu kejadian terhadap permukiman, jalan maupun kawasan hutan.
Namun Google Maps sebaiknya tidak menjadi satu-satunya rujukan. Platform tersebut bukan sistem resmi khusus pengendalian karhutla di Indonesia sehingga informasi yang tampil tetap perlu dibandingkan dengan data SiPongi+, BMKG atau layanan pemantauan satelit lainnya.
Masyarakat yang ingin melakukan pengecekan tambahan juga dapat menggunakan Citra Polar Hotspot BMKG. Sistem BMKG memanfaatkan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar untuk mendeteksi anomali suhu permukaan dan memperlihatkan persebaran hotspot secara berkala. Informasi ini dapat menjadi pembanding sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi sebuah wilayah.
Hal yang perlu digarisbawahi, hotspot bukan berarti satu titik kebakaran. Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Sebaliknya, suatu anomali panas yang tertangkap satelit juga masih membutuhkan pemeriksaan langsung untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran, mengetahui penyebabnya serta menghitung luas lahan yang terbakar. Karena itu, angka dari satelit berbeda maupun waktu pemantauan berbeda tidak tepat jika langsung dijumlahkan dan dianggap sebagai jumlah kebakaran.
Karhutla Kalimantan saat ini bukan sekadar kumpulan titik merah di layar ponsel. Di baliknya terdapat operasi ribuan personel, jutaan liter air yang dijatuhkan dari udara dan ancaman asap yang dapat berdampak langsung terhadap masyarakat. Teknologi membuat publik bisa melihat tanda-tandanya lebih cepat, tetapi pencegahan tetap menjadi bagian terpenting. Masyarakat di wilayah rawan diminta tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melapor kepada petugas apabila menemukan kebakaran agar api dapat ditangani sebelum meluas.